CONTOH PENTING Untuk Orang Tua

CONTOH PENTING Untuk Orang Tua

Fathimah Az-Zahra adalah putri keempat dari Muhammad RasuluLlah dan ibunya, Ummahatul Mukminin Khadijah binti Khuwailid. RasuluLlah memberikan julukan kepada Fathimah dengan ‘az-zahra’ (bunga). Dan beliau dikunnyahkan dengan Ummu Abiha (ibu dari ayahnya), karena kesungguhan, kesabaran, dan keteguhan Fathimah dalam mendampingi sang ayah sebagai pengganti tugas-tugas ibunya setelah wafat, sedangkan Khadijah adalah seorang ibu yang paling utama dan istri yang paling mulia. Pun, Fathimah adalah anak yang paling mirip dengan ayahnya, Muhammad RasuluLlah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh, RasuluLlah telah menggambarkan kecintaannya kepada putri beliau, Fathimah tatkala beliau berkhutbah di mimbar:
“Sesungguhnya Fathimah adalan bagian dagingku, maka barangsiapa yang membuatnya marah, berarti telah menjadikan aku marah”

Dan dalam riwayat lain:
“Sesungguhnya, Fathimah adalah bagian dari potongan dagingku, maka barangsiapa yang mendustainya berarti mendustaiku, dan barangsiapa yang mengganggunya, berarti dia mengganggu diriku” (H.R. Bukhari no 2449)

Karena kecintaan RasuluLlah kepada putrinya itu, apabila beliau pulang dari safar, beliau masuk masjid lalu shalat dua rakaat dan mendatangi Fathimah, baru kemudian mendatangi istri-istri beliau. Telah diceritakan oleh Ummul Mukminin (ibunya orang Mukmin karena sebagai istri Rasul, ed), “Belum pernah aku melihat orang yang paling mirip dengan RasuluLlah dalam berbicara melebihi Fathimah, apabila dia masuk menemui Nabi, maka Nabi berdiri untuk menyambutnya dan menciumnya, serta melapangnya tempatnya. Begitu pula sebaliknya perlakukan Fathimah terhadap Nabi”
(H.R. Abu Dawud dalam ‘Al-Adab’ no. 5217, At-Tirmidzi dalam ‘Al-Manaqib’ no. 3871, dan Al-Hakim dalam ‘Al-Mustadrak’ III/154, dishahihkan dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Sekalipun demikian melimpahnya kecintaan ini, akan tetap Nabi menjelaskan kepada putriya, dan juga kepada yang lain agar senantiasa beramal dan berbekal taqwa. Suatu hari beliau berdiri dan berseru:
“Wahai sekalian orang Quraisy, jagalah diri kalian, sesungguhnya aku tidak dapat membantu kalian di sisi ALlah sedikitpun, wahai… wahai… wahai… Fathimah binti Muhammad, mintalah kepadaku hartaku yang kamu sukai, namun aku tidak dapat menolongmu dari kehendak ALlah sedikitpun”

dalam riwayat lain:
“Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari naar (neraka, red), karena sesungguhnya aku tidak kuasa memberikan madharat dan manfaat di sisi ALlah”
(H.R. Bukhari VI/16 dan Muslim no 206)

Dari Tsauban berkata:
RasuluLlah masuk ke rumah Fathimah, sedangkan ketika itu aku bersama beliau. Fathimah mengambil kalung emas dari lehernya, seraya berkata: “Ini adalah pemberian Abu Hasan kepadaku”. Maka beliau bersabda:
“Wahai Fathimah, apakah engkau senang jika orang-orang berkata: ‘inilah Fathimah binti Muhammad, sedangkan di tangannya ada kalung dari naar (neraka, red)?’ ”

Kemudian beliau memarahi Fathimah dengan keras dan menghardiknya, kemudian beliau keluar tanpa duduk terlebih dahulu. Maka Fathimah mengambil sikap untuk menjual kalungnya, kemudian hasilnya dibelikan seorang budak wanita, setelah itu dia merdekakan. Tatkala hal ini sampai kepada RasuluLlah, bersabdalah beliau:
“Segala puji bagi ALlah yang telah menyelamatkan Fathimah dari naar”
(H.R. An-Nasa’i VIII/158 dan Al-Hakim III/152-153)

Maka kedudukan yang telah diraih oleh Fathimah di sisi ayahnya RasuluLlah tersebut, tidaklah menghalangi RasuluLlah dalam memarahinya, bahkan mengancamnya bahwa sekali-kali RasuluLlah tidak dapat menolong Fathimah dari kehendak ALlah. Bahkan beliau juga memberikan ancaman, seandainya dia mencuri, maka akan ditegakkanlah hukum atasnya, yakni hukum potong tangan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang seorang wanita Al-Makhzumiyyah yang mencuri kemudian kaumnya memintakan ampunan agar wanita tersebut bebas melalui Usamah bin Zaid bin Haritsah, orang yang paling dekat dengan beliau.

Beliau pun marah kepda Usamah bin Zaid, karena permintaan tersebut akan mengubah kebijaksanaan pertama dan akan membuka peluang dihilangkannya sanksi, maka Nabi marah kepada Usamah karena ALlah, kemudian beliau bersumpah kepada ALlah Ta’ala bahwa beliau akan menerapkan hudud(hukum) Allah, sekalipun terhadap orang yang paling beliau cintai, jika dia terjerumus ke dalam suatu kesalahan yang mengharuskan untuk dihukum; agar bisa dijadikan teladan.

RasuluLlah bersabda:
“Wahai manusia, sesungguhnya sesatnya orang-orang sebelum kalian dikarenakan apabila yang mencuri adalah orang-orang yang mulia kedudukannya, maka dibiarkan, akan tetapi manakala yang mencuri adalah orang-orang lemah, maka mereka menegakkan hukum. Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya.”
(H.R. Bukhari dalam al-Hudud VIII/16 dan Muslim no 1688)

diambil dari:
Mengenal Shahabiyah Nabi, Pustaka At-Tibyan, Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dan Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, cet 2, Januari 2002. Ditulis kembali oleh Ummu Abdurrahman dalam kumpulan kisah islam.

Subhanallah.. betapa luar biasa kasih sayang yang ditunjukkan Rosulullah SAW kepada putri beliau. Betapa Rosulullah SAW telah memberikan contoh yang begitu baik dalam mendidik anak. Apakah tidak terbesit disetiap jiwa muslim untuk mencontoh cara mulia yang Beliau SAW terapkan pada putrinya?

Kebanyakan orang tua saat ini selalu berusaha membahagiakan anak-anak mereka walau dengan cara yang kurang baik. Memberikan semua yang dikehendaki tanpa ada pemahaman. Tidak pernah menegur kesalahan anak dan menganggap semua yang dilakukan adalah benar, walau sangat jelas kesalahannya. Takut memarahi anak dan enggan bersikap tegas dengan dalih takut melukai hati sang anak, padahal hal itu justru “melukai” masa depan sang anak. Satu hal lagi yang perlu digarisbawahi adalah karakter anak sangat dipengaruhi pendidikan rumah, karena jauh sebelum mereka merasakan pendidikan sekolah, pendidikan rumah telah membentuk karakter mereka dengan sangat kuat.

Cukuplah Rosul sebagai tauladan terbaik kita, semoga kita bisa menjadi pendidik yang baik untuk anak-anak kita sekarang dan nantinya..

3 comments on “CONTOH PENTING Untuk Orang Tua

  1. Wah luar biasa sekali cara didik Rasulullah SAW..Sebuah ketegasan yang jarang bisa diterapkan oleh para orang tua.. Karena kebanyakn orang tua hanya memikirkan kesenangan sesaat anak tapi mereka tidak meikirkan kebaikan hakiki untuk anak2 mereka..Smoga kita menjadi bagian dari orang tua yang bisa bersikap tegas pada anak kita..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s