5 Gaya mendengarkan yang harus kita hindari

Ada 5 Gaya mendengarkan yang harus kita hindari:

1.   Mengawang-awang,

ini adalah gaya mendengarkan yang benar-benar harus kita hindari sesering mungkin dalam berkomunikasi. Garing…….! Ketika orang lain berbicara, kita sedang asik dengan pikiran kita sendiri. Mungkin ini sesekali kita lakukan karena ada hal lain yang penting yang harus kita fikirkan, tapi hindari sesering mungkin karena siapapun tidak akan kembali lagi untuk bercerita kepada kita jika kita sering mengawang-awang.

2.   Pura-pura mendengarkan,

gaya ini hampir sama dengan sebelumnya, tapi yang satu ini kita kadang-kadang mengeluarkan kata-kata seolah-olah kita mendengarkan……”Oh…..”, “Masa sih..?!”, “Gitu ya?!”, “kedengarannya boleh juga….”. Biasanya lawan bicara kita akan menyadari dan kemudian meninggalkan kita karena merasa tidak cukup penting untuk didengarkan.

3.   Mendengarkan secara selektif,

Gaya ini adalah ketika kita tidak benar-benar memperhatikan isi dari apa yang ingin disampaikan orang lain, kita hanya memilih dan kemudian berkomentar tentang hal yang kita pilih itu. Misalnya ketika teman kita ingin bercerita tentang cita-citanya menjadi dokter yang terhambat karena biaya, dengan gaya selektif kita mungkin akan berkomentar “Oh…jadi dokter itu memang pekerjaan yang mulia, kakak saya juga seorang dokter dan sekarang ia sedang melakukan PTT di Ujung Pandang….……”. Kira-kira apa yang terjadi?…………. Kita mungkin bukan hanya kehilangan inti dari pembicaraan tapi mungkin kita tidak akan pernah memiliki hubungan yang dekat dengan siapapun jika kita pertahankan gaya ini.

4.   Mendengarkan yang terpusat pada diri sendiri,

Bukannya kita mencoba menyelami perasaan orang lain dan memandang dengan cara mereka memandang, gaya ini biasanya memandang sesuatu dengan “kacamata” kita. Biasanya gaya ini dimulai dengan “Saya dulu pernah mengalami hal itu, dan yang saya lakukan adalah ini….ini…..dan ini……..”, atau “Hal itu belum seberapa, Sya pernah mengalami yang lebih buruk dari itu…………”. Gaya ini biasanya diawali dengan kesibukan pikiran kita tentang diri kita ketika orang lain berbicara, kita sibuk menyiapkan ‘feedback – kalau saya’ sehingga kita melewatkan waktu mendengar lebih banyak.

5.   Menasihati, Gaya ini menjadikan kita seperti seorang yang memberikan nasihat berdasarkan pengalamannya sendiri, tanpa mendengar lebih banyak.
Dengan kelima gaya mendengarkan ini, alih-alih membina hubungan yang lebih dekat, kita mungkin malah mengambil banyak ‘tabungan hati kita’ dari orang lain yang menjadi lawan bicara kita.

 

Kris Cole. Crystal Clear Communication. 1993. Gramedia.

6 comments on “5 Gaya mendengarkan yang harus kita hindari

  1. Assalamu ‘alaikum Cak Nur

    Saya pernag mengikuti pelatihan selama dua hari. Salah satu pelajaran yang disampaikan adalah tentang “mendengarkan”. Dan ternyata “mendengarkan” memang bukan pekerjaan mudah, karena menurut para pengajar, “mendengarkan” adalah pekerjaan yang harus menyertakan banyak hal : otak, hati dan tentu saja telinga serta menjaga mulut.

    Tulisan anda sangat bagus, terus terang saya suka dengan hal tersebut.
    Jika anda suka berbagi kebaikan, silakan teruskan kelola blog anda ini, semoga banyak orang mengambil manfaat dari tulisan anda.

    Jika anda tidak keberatan, silakan kunjungi http://mimpipribumi.wordpress.com
    disanalah saya berbagi berbagai hal selain otomotif, walaupun tidak semuanya hasil karya sendiri karena banyak artikel yang merupakan hasil membajak dari artikel asing.

    Dan tidak lupa, saya ucapkan terimakasih atas kunjungan anda.

    Wassalamu ‘alaikum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s